Kamis, 22 Januari 2009

Nasib Buruk

Ini terjadi di Indonesia. Teman saya menulis buku bertajuk Perencanaan Pembelajaran.
Dapet royalti. Ya, paling besar 10%. Tentu lebih kecil dibanding distributor yang, konon, bisa mencapai 30% atau bahkan 40%.
Diam-diam, buku itu terpilih oleh Diknas untuk dijadikan buku paket. Diknas memesan pada sang penerbit. Menurut kabar, biasanya, Diknas memesan tidak kurang dari 30.000 atau bahkan bisa mencapai 50.000 eksemplar.
Hmmm... hitung aja royaltinya. Berapa seharusnya penulis itu memperoleh rupiah. Dia pun diberitahu penerbit, dan diberi uang sebesar Rp. 50.000.000.
Kawan saya yang bekerja di penerbit bilang: "seharusnya dia dapat Innova...".
Inilah nasib buruk penulis di Indonesia.
Jangan mimpi akan lahir ribuan penulis di negeri ini. Kecuali jika penulis sudah tidak lagi butuh insentif; jika penulis sudah tidak perlu makan; jika penulis sudah terbebas dari kewajiban memberi nafkah anak dan istri.
Hmmm.. kapan ya....

1 komentar:

  1. Sedih ya prof! segalanya berujung pada titik TERPURUK. Tapi yang paling menyakitkan, ya kehidupan guru yang terkoyak-koyak oleh realitas!!!. Eh.....yang paling menyedddihhhkan lagi GURU DIHIANATI OLEH GURU JUGA!. Kasus ketua umum Musyawarah Guru Honorer (punten namina hilap deui)yang bawa kabur uang tunjangan buat anggotanya, membuat hati semua orang tersayyat perrrrihhh! ih........KOKO GITU SEH?
    Atau, prof pernah baca di KOMPAS kan? Beribu-ribu orang guru di NTT kena tipu LPTK (lembaga pendidikan tinggi kependidikan, yang mengeluarkan ijazah palsu. Padahal harga yang harus dibayar lumayan geddde, 5 X gaijhku lho!.Makanya, Yuuk sahabat-sahabatku mari atuh membumikan BUDAYA JUJUR, biar BAROKAH, bener gak Prof!

    BalasHapus