Selasa, 27 Januari 2009

Capek



Maaf, saya lagi capek. Sering, capek itu bukan karena kerja fisik. Tapi justeru karena beban psikis. Saya lagi capek. Ada tamu. Aku harus melayaninya, karena agamaku mengajarkan begitu. Secara fisik, tentu tidak capek. Cukup duduk dan mendengarkan "ceramah". Tidak berkeringat. Tapi secara psikis, aku lelah menghormatinya. Lelah karena sebetulnya "nasihat-nasihatnya" tidak masuk pada ruang akal pikiranku, minatku, dan ketulusanku.

Agamaku memang mengajarkan untuk menghormati tamu. Saya tidak berani protes. Tapi saya juga bertanya, apakah agama tidak mencoba memahami rasa lelahku? Setahu saya, agama selalu memberikan yang terbaik dan titahnya selalu yang tidak membuat lelah.
Tuhan, dalam keadaan seperti itu, bolehkah aku menghindari tamu yang datang menemuiku? Aku capek, Tuhan.

Ini perang bathinku yang kedua.

1 komentar:

  1. He he he, saya hobby banget ngomntarin orang. Memang sihh, gak ada aturan agam yang bisa memehami arti lelah. Tapi, seorang profesional pasti mampu memenej waktu dengan baik, dan bersikap disiplin ya kan?!!. Gini lho, terkadang displin diartikan dengan kerja keras yang tanpa batas!. Ya gak gitu Prof!. Kalau menurut sayah mah, disiplin dengan dilandasi profesional yaitu bijaksana memberi kesempatan diri kita sendiri untuk Istirahat, bekerja, bersilaturahmi, chatting(he he he), membuat karya tulis, etc. dech! So, Professor gak usah cari dalil syar'i tentang CAPPEK dan MENGHORMATI TAMU> setuju Prof! Sok ah, geura gugah!!!wake up up up up!

    BalasHapus